Madina (BarBar)

Penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi proyek pembangunan Taman Raja Batu dan Tapian Siri-Siri Syariah di komplek perkantoran Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terus “bergulir” di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Selasa (30/1), dua orang saksi pelapor diminta keterangan penyidik.

Kejatisu memanggil  dua saksi pelapor, yakni AYN (Ahmad Yasin Nasution) dan AN (Asmaruddin Nasution), dan ada sekitar 120 pertanyaan yang “dikerahkan” penyidik kepada AYN dan AN.

Dikataan AYN,“Kami sudah diperiksa mulai dari pagi sekitar pukul 09.00 WIB oleh penyidik. Kalau tidak salah ada 120 pertanyaan, dan semua sudah kami jawab dengan dokumen secukupnya,” ujarnya kepada wartawan

Pertanyaan yang diberikan penyidik menurut AYN adalah semuanya seputar proyek pembangunan taman raja batu dan tapian siri-siri. Misalnya proyek tersebut yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) hingga status proyek.

“Semuanya terkait pembangunannya, mulai dari pembangunan yang berada di DAS, alat berat milik Pemkab Madina yang dipekerjakan, aturannya kan apabila aset daerah dimanfaatkan tentu harus ada PAD nya. Kemudian, pegawai ASN maupun honorer yang digaji APBD daerah tapi ikut aktif bekerja di proyek tersebut, dan progress pembangunan yang kami anggap melanggar aturan hukum. itu semua ditanyakan sama kami,” terang AYN.

Senada dikatakan AN, ia menyebut pertanyaan penyidik pada dirinya seputar status proyek tersebut. “Salah satunya mengenai statemen pak Bupati yang menyebut bahwa proyek Taman Raja Batu dan Tapian Siri-Siri tidak dibiayai oleh APBD. Nyatanya kami menemukan ada pembayaran 36 paket pekerjaan di komplek perkantoran Pemkab Madina yang berada di taman raja batu dan tapian siri-siri. Ironisnya, pekerjaannya di tahun 2015 tetapi pembayarannya di tahun 2016. Ada juga yang pekerjaannya di tahun 2016 tetapi dibayar tahun 2017. Sepengetahuan kami itu sudah jelas melanggar aturan hukum yang ada,” jelasnya. (wan)