Bank Indonesia Sosialisasi CBP Rupiah di Kejari Siantar

SIANTAR – BarisanBaru.Com
Bank Indonesia senantiasa menjaga kualitas dan keamanan Rupiah dengan penggunaan unsur pengaman dan teknologi terkini agar Rupiah semakin mudah dikenali oleh masyarakat, menyulitkan pemalsuan dan memiliki usia edar yang lebih lama.
Untuk Rupiah yang semakin berdaulat, Bank Indonesia mengajak masyarakat senantiasa cinta, bangga dan paham Rupiah.

Seperti yang disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar Teuku Munandar dalam acara Edukasi Cinta,Bangga dan Paham Rupiah dan Ciri-ciri Keaslian uang Rupiah kepada personil Kejaksaan Negeri (Kejari) Pematangsiantar, Senin (07/11/2022)

“Sejarah dunia mencatat beberapa negara pernah terancam kedaulatannya, bahkan terjadi disintegrasi yang awal mulanya dipicu
oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil”,kata Munandar.

Teuku Munandar menjelaskan Selain dalam hal menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan nasional, peranan Bank Indonesia dalam menjaga kedulatan negara juga tercermin dari pelaksanaan tugas BI di bidang pengelolaan uang Rupiah,sebagaimana yang diamanatkan UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

Dalam UU Mata Uang tersebut, kata Munandar jelas disebutkan bahwa alat pembayaran yang sah di NKRI adalah hanya Rupiah, dan Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang melakukan Pengeluaran, Pengedaran, dan/atau Pencabutan dan Penarikan Rupiah.

“Jadi sudah menjadi kewajiban kami di Bank Indonesia, untuk memastikan bahwa setiap transaksi di NKRI hanya menggunakan
Rupiah, yang merupakan simbol kedaulatan Negara Republik”,tutur Teuku Munandar

Lebih lanjut Munandar mengatakan, tentunya upaya menjadikan Rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah di NKRI dan menjadi kebanggaan bangsa,
tidak bisa hanya dilakukan oleh BI, melainkan diperlukan kerjasama lembaga/pihak terkait lainnya, serta partisipasi masyarakat
Indonesia sebagai pengguna Rupiah.

“Rasa cinta, bangga, dan paham terhadap Rupiah harus dimiliki oleh masyarakat, sehingga dengan sendirinya kesadaran untuk menjaga Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa akan timbul dalam diri masyarakat Indonesia”,ucap Putra Aceh tersebut.

Dikatakan Munandar untuk menumbuh kembangkan rasa cinta, bangga dan paham terhadap Rupiah di dalam diri masyarakat, Bank Indonesia melakukan edukasi dan sosialisasi Cinta Bangga Paham Rupiah, atau yang biasa disingkat CBP, kepada berbagai elemen bangsa.

Sosialisasi CBP ini, kata Munandar, semakin penting dan strategis, karena selain sebagai masyarakat, bapak/ibu di kejaksaan memiliki peranan penting dan keterkaitan terhadap tugas Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) oleh Bank Indonesia.

Ditambahkannya, Sesuai dengan misi kejaksaan, diantaranya mencegah tindak pidana dan Mewujudkan Upaya Penegakan Hukum Memenuhi Rasa Keadilan Masyarakat, maka kegiatan ini sangat tepat dilakukan.

“Kejahatan pemalsuan uang harus bisa dicegah, diantaranya melalui pengenaan hukuman yg berat sesuai ketentuan yang berlaku, agar ada efek jera. Selain itu, dengan dihukum berat sesuai ketentuan, maka rasa keadilan akan tercipta bagi masyarakat yang telah menjadi korban kejahatan uang palsu (upal)”,tukasnya.

Bagi pedagang kecil, jelas Munandar, 1 lembar uang Rupiah pecahan 100 rb sangat berarti, sehingga apabila mereka menjadi korban kejahatan uang palsu, maka kerugiannya sangat terasa. Sementara secara makro, kejahatan upal berkontribusi kepada inflasi (jumlah uang yang beredar), yang pada akhirnya akan menyusahkan masyarakat miskin dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Teuku Munandar menerangkan data upal di wilayah kerja BI Pematang Siantar (8 kabupaten/kota) yaitu Siantar, Simalungun, Batu Bara, Tanjung Balai, Asahan, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara dan Labuhan Batu Selatan (Sisi Batas Labuhan) tahun 2021 = 422 bilyet Pecahan 100.000 = 293 bilyet (69%),Pecahan 50.000 = 107 (25%)
Pecahan 20.000 = 13,Pecahan 10.000 = 5,
Pecahan 5.000 = 4.

Pada tahun 2022, lanjut Munandar, ada sebanyak 304 bilyet yang terdiri dari pecahan 100.000 sebanyak 178 bilyet, pecahan 50.000 ada 120, pecahan 20.000 ada 4 dan pecahan 10.000 ada 2 bilyet.

Sedangkan Data temuan upal Nasional pada tahun 2021 sebanyak 310.282 bilyet dengan pecahan mayoritas adalah 100.000 dan 50.000. Sementara tahun 2022, sampai bulan Oktober, sebanyak 576.855 lembar, dengan mayoritas pecahan 100.000 atau 91 persen dan 50.000 atau 7,9 persen

“Sebagai informasi, uang rupiah salah satu uang yang memiliki tingkat keamanan terbaik di dunia,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu juga Munandar mengatakan pada tanggal 18 Agust 2022 BI menerbitkan uang Rupiah emisi baru, untuk 7 pecahan kertas. Kami menyebutnya uang emisi baru ini dengan INTAN, lebih indah-
tahan-aman. Desain warna lebih tajam sehingga mudah dikenali, penguatan pengamanan yg lbh handal agar sulit dipalsukan, dan ketahanan bahan uang yg lbh baik agar semakin panjang masa edarnya.

“Dalam uang emisi 2022 ini, BI juga mengakomodir masukan Pertuni
mengenai ukuran uang, pungkasnya.**

Sementara itu Kepala Kejakaaan Negeri Pematangsiantar Jurist Precisely Sitepu, SH, MH sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih dengan acara edukasi cinta bangga dan paham rupiah bagi keluarga besar kejaksaan negeri siantar.

Terkait kasus uang palsu, Kajari berharap bisa bersinergi dengan BI tentang barang bukti uang untuk melihat keasliannya karena kami berkomitmen akan menuntut pelaku uang palsu seberat-beratnya.(iw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.