SIANTAR – BarisanBaru.com
Sasana di lingkungan Pesantren Darul Misbah di Dusun Sidomulyo, Nagori Kasindir, Kecamatan Jorlang Hataran, Kabupaten Simalungun tampak hangat dipenuhi para santri untuk menghadiri acara pembekalan, Jumat (06/02/2026).
Acara pembekalan yang disambut dengan antusias itu dibuka, Dr Dwipayana didampingi Pembina Yayasan Pesantren Darul Misbah, Haji Ridwansya Putra dan Buya Kasinder Muhammad Syamsul Bachri BM S Sos.
Meski pesan yang disampaikan begitu sederhana, tetapi menjadi bahan untuk berpikir positif sebagai kunci agar langkah hidup tidak mudah goyah.
“Pikiran negatif tentu sering membuat orang menyerah sebelum berjuang. Sedangkan pikiran positif membantu seseorang memilih respons yang benar ketika masalah datang, ” kata Dr Dwipayana dihadapan para santri.
Terkait dengan itu, Dr Dwipayana mengingatkan bahwa jalan hidup sudah diarahkan melalui Al-Qur’an dan Hadis. Tugas manusia adalah mempelajarinya dengan sungguh-sungguh agar ibadah dan carahidup semakin baik.
Memasuki isu dakwah, Dr Dwipayana mengajak santri memahami tantangan zaman. Dakwah tidak cukup hanya pandai berbicara di mimbar, tetapi juga harus mampu hadir di ruang-ruang komunikasi modern.
“Santri era kini harus siap menjadi dai yang bisa menyampaikan pesan kebaikan dengan bahasa yang mudah, menenangkan, dan relevan-baik di majelis maupun di media sosial, ” ujar Dr Dwipayana lagi memberi pesan.
Kemudian para dai diingatkan agar saat memberi panduan tidak gugup, mengenali siapa jamaahnya dan dapat memahami kebutuhannya. Kemudian, harus menguasai materi. Selanjutnya, sampaikan ayat secukupnya dengan penjelasan yang bermakna.
“Prinsip komunikasi yang ditekankan terang, REACH+AC–respect, empathy, audible, clarity, humble, lalu action and consisten cy, merupakan fondasi agar dakwah sampai ke hati tanpa melukai. Bagian yang paling penting, materi mengena bagi banyak hadirin, ” ujarnya lagi.
Pada kesempatan itu dibahas juga tentang perbedaan latar belakang ekonomi jamaah. Dan, saat muncul pertanyaan tentang bagaimana bersikap jika jamaah memiliki tingkat ekonomi lebih tinggi, jawabannya tegas dan menenangkan.
“Anda hadir bukan untuk ekonomi; Anda hadir untuk memberi ilmu,” katanya sembari mengatakan, pesan itu menegaskan bahwa martabat seorang dai bukan pada harta. Melainkan pada manfaat dan keteladanan.
Sementara, para guru dan orang tua juga diingatkan bahwa nasihat akan lebih ditaati bila disertai contoh. “Jangan menyuruh anak melakukan sesuatu yang kita sendiri enggan melakukannya, ” kata Dr Dwipayana.
Untuk menguatkan karakter dan kinerja, Dr Dwipayana menekankan etos “4 AS”. Yaitu, kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras, dan kerja tuntas. Karena, amanah yang diselesaikan dengan benar jelas melahirkan kepercayaan dan keberkahan.
Menutup pembekalan, Dr Dwipayana membagikan “lima prinsip kehidupan” yang mudah diingat. Yakni, memberi seperti akar yang akarnya banyak memberi manfaat meski tidak terlihat. Sabar seperti laba-laba yang filosofinya, membangun lagi meski sering hancur.
Selanjutnya, bersyukur seperti burung yang terbang tinggi terbang namun tidak lupa daratan. Ikhlas seperti air yang dibutuhkan namun sering dilupakan. Kemudian, rendah hati seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk.
Dijelaskan juga, seluruh rangkaian pesan itu bermuara pada satu ajakan inti, santri siap berdakwah dengan sikap positif, komunikasi beradab, dan komitmen, konsisten untuk terus mengoptimalkan potensi diri.(Rel)









