Tapsel, (barisanbaru.com)

            Kasus Dugaan Perambahan Hutan yang diduga dilakukan oleh oknum Walikota Padangsidimpuan Irsan Efendi Nasution jadi misteri yang tertutup. Padahal sejak pertama ditemukan kasus ini sudah berjalan hampir dua bulan, namun pihak kepolisian belum kunjung memberikan rilis pers seputar kronologi sebenarnya bahkan siapa tersangka utamanya.

            Akibat lambannya keterangan publik dari kepolisian, sehingga muncul perbincangan dan perdebatan yang menjadi buah bibir dengan “memuntahkan lahar panas” pro kontra di kalangan pengamat. Mulai dari asumsi negatif hingga asumsi positif , ada yang mencibir khawatir dengan penegakan supremasi hukum dan ada yang bersabar menanti kesiapan polisi memberikan keterangan untuk publik.

            Khabar yang dihimpun Barisan Baru, sejumlah saksi disebutkan telah diperiksa pihak kepolisian resort Tapanuli Selatan , seperti Ir. Armin Siregar selaku Kadis PUD Kota Padangsidimpuan, Sekretaris PUD Jul Hendri dan Bendahara Penerimaan PUD Zulkarnaen, ketiganya merupakan pihak pemilik alat berat (beckhoe) yang digunakan untuk menland clearing kawasan hutan milik walikota Padangsidimpuan ini.

            Pihak terperiksa lainnya adalah sipengguna alat berat yakni oknum walikota Padangsidimpuan Irsan Efendi Nasution dan penjual kebun berinisial US. Sedangkan penjaga kebun disebut bermarga Siregar yang merupakan penduduk Desa Sibio-bio Kec. Angkola Timur dikhabarkan melarikan diri.

            Larinya penjaga kebun bermarga Siregar ini , dibincangkan karena dia dijadikan tumbal sebagai si penyewa alat berat menggantikan oknum walikota Padangsidimpuan. Intrikpun direkayasa dengan melakukan kontrak sewa atas nama Siregar, sementara nama Irsan Efendi Nasution tidak masuk dalam kontrak dan dibuluskan akan bebas dari jerat hukum.

            Ada yang menyeru, selihai apapun trik yang dilakukan tupai pun bisa jatuh juga. “ Irsan jangan berlagak tupai dengan menggunakan trik licik , dia tidak akan lepas dari jerat hukum “, papar Nurdin Lubis kepada wartawan, Kamis (24/10) di salah satu kedai kopi.

            Bolehlah dia menyamarkan nama pemilik kebun atau nama penyewa beckhoe, namun nalar hukum akan berbicara lain membutktikan benar tidaknya rekayasa administrasi.

            Dari perbincangan-perbincangan yang dikutip di berbagai kalangan warga kota Padangsidimpuan disebutkan bahwa, 2 oknum saksi mata yang memergoki Irsan Efendi Nasution dan istri beserta penjaga kebun tidak dipanggil pihak kepolisian untuk memberikan kesaksian , hal ini disebutkan karena pelapor kasus dugaan perambahan hutan ini adalah pihak manajemen PT. TPL (Toba Pulp Lestari), sehingga kedua saksi mata ini dipandang tidak berkaitan dengan kasus ini.

            Namun yang memboomingkan pertama kali kasus ini menjadi kasus yang dikategorikan sebagai kasus perambahan kawasan hutan Negara adalah hasil keker / ukur alat GPS milik oknum lSM Alarm sendiri, sementara pihak kepolisian hingga saat ini tak jelas apakah sudah pernah melakukan pengukuran titik koordinat dimaksud dan lantas menyematkan tanda berdosa berupa police line pada alat berat yang dipergunakan.

            Kasat Reskrim Polres Tapsel, AKP. Alexander Piliang belum kunjung memberikan komentar atas pertanyaan Bar-bar seputar kronologi dugaan perambahan hutan yang diduga dilakukan oleh oknum walikota Padangsidimpuan, apakah penyematan tanda police line pada alat berat tersebut merupakan kasus perambahan hutan atau kasus delik aduan dari PT. TPL atas perampasan lahan.

            Untuk menjaga kesimpangsiuran informasi, seyogyanya pihak kepolisian secepatnya memberikan keterangan pers atau public agar situasi pada masyarakat yang pro kontra dapat teratasi secara kondusif, pinta Nurdin.  (Tim).