Jelang HBKN, Siantar dan Labuhan Batu Alami Deflasi

SIANTAR – BarisanBaru.com
Perkembangan harga di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar pada Januari 2026 menunjukkan tren yang cukup terkendali. Dua kab/kota Indeks Harga Konsumen (IHK), yakni Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Labuhanbatu, tercatat mengalami deflasi.

Di Kota Pematangsiantar, kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Ahmadi Rahman deflasi bulanan tercatat sebesar -0,11 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi masih berada di level 4,70 persen (yoy), sementara inflasi tahun berjalan tercatat -0,11 persen (ytd), Rabu, 4/2/2026.

Sementara itu, Kabupaten Labuhanbatu mengalami deflasi yang lebih dalam, yakni -0,83 persen (mtm). Inflasi tahunan tercatat sebesar 3,73 persen (yoy) dengan inflasi tahun berjalan -0,83 persen (ytd).

Harga Pangan Turun, Emas Masih Naik Deflasi pada Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh mulai masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi, sehingga pasokan komoditas pangan meningkat dan harga cenderung turun.

Selain itu, jelas Ahmadi efek tingginya inflasi pada Desember 2025 (base effect) turut mendorong penurunan harga pada awal tahun. Di Kota Pematangsiantar, penurunan harga terutama disumbang oleh cabai merah, andaliman, dan cabai rawit.

Sementara di Kabupaten Labuhanbatu, deflasi banyak dipengaruhi oleh turunnya harga cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah. Meski demikian, tekanan deflasi tertahan oleh kenaikan harga emas perhiasan. Ketidakpastian ekonomi global mendorong masyarakat mengalihkan investasi ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), sehingga harga emas meningkat cukup signifikan di kedua wilayah.

Selain emas, beberapa komoditas ikan juga turut memberikan andil inflasi.

Langkah Konkret Pengendalian Inflasi Untuk menjaga stabilitas harga, KPwBI Pematangsiantar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi dan sinergi lintas sektor.

Kemudian Ahmadi mengatakan sepanjang Januari 2026, sejumlah langkah telah dilakukan, antara lain Focus Group Discussion (FGD) Inflasi Kota Pematangsiantar yang melibatkan Bank Indonesia, OPD, BPS, dan Bulog. FGD rutin ini menjadi wadah untuk menyusun langkah antisipatif, termasuk rencana peluncuran Early Warning System (EWS), pelaksanaan pasar murah, serta Gerakan Pangan Murah (GPM) menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 2026.

Selain itu, di Kabupaten Labuhanbatu, KPwBI Pematangsiantar turut mendorong penguatan ketahanan pangan rumah tangga melalui Pelatihan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang diikuti oleh 15 (lima belas) Kelompok Wanita Tani (KWT).

Ke depan, kegiatan ini akan dilanjutkan dengan lomba P2L guna meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan.

Komitmen pengendalian inflasi juga ditegaskan melalui High Level Meeting (HLM) TPID Kota Pematangsiantar yang dirangkaikan dengan peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) pada akhir Januari 2026. Waspadai Tekanan Jelang Ramadhan

Ke depan, deflasi diperkirakan masih berlanjut pada Februari 2026 seiring dengan meningkatnya pasokan akibat musim panen dan curah hujan yang cukup.

Namun demikian, tekanan inflasi berpotensi meningkat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri pada triwulan I 2026.

Oleh karena itu, Ahmadi menjelaskan penguatan koordinasi antar pemangku kepentingan serta pemanfaatan Early Warning System yang akan segera diluncurkan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga.

Dengan langkah yang terukur dan sinergi yang kuat, inflasi tahun 2026 diyakini dapat tetap berada dalam target serta menjaga daya beli masyarakat.(iw)

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses