Gebyar Marpesta Qris 2026, Limbah Uang Kertas Jadi Karya Seni Estetik

SIANTAR – BarisanBaru.com
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar menggelar lomba melukis dengan konsep unik di Lapangan Adam Malik, Kecamatan Siantar Barat, Sabtu (29/8/2026).

Berbeda dari lomba pada umumnya, peserta justru menggunakan pecahan limbah uang kertas yang sudah tidak layak pakai sebagai media tambahan dalam karya seni mereka.

Suasana riuh rendah mewarnai rangkaian acara Marpesta QRIS 2026. Di tengah hiruk-pikuk pengunjung, puluhan pelukis profesional asyik menekuri kanvas mereka. Tapi ada yang berbeda dari lomba melukis pada umumnya. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar sengaja menghadirkan konsep upcycling: mengubah limbah uang kertas yang tak layak edar menjadi medium seni rupa.

Pecahan uang mulai dari seri Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, hingga Rp 2 ribu, ditempelkan satu per satu di atas kanvas. Butuh kesabaran ekstra. Sebab, setelah uang-uang itu merekat dengan lem, barulah para seniman mulai menggoreskan cat untuk menyatukan warna-warna serpihan tersebut menjadi satu harmoni visual.

Eko Kaki Langit, salah satu juri lomba, mengatakan konsep ini sengaja dihadirkan untuk memberi tantangan baru bagi para seniman lokal.

“Ini cukup berbeda dari biasanya. Selain melukis, peserta harus berkreasi menggunakan limbah uang kertas sebagai media tambahan di kanvas. Uang tersebut ditempel menggunakan lem, baru kemudian diwarnai,” ujar Eko.

Dewan juri juga menilai kekayaan bahan limbah uang yang diaplikasikan peserta menjadi salah satu aspek penilaian.

Bagi Nana, salah seorang peserta, ini adalah pengalaman yang sama sekali baru. Ia beberapa kali berhenti, menunduk, dan mengatur ulang letak potongan uang di kanvasnya.

“Baru kali ini saya ikut lomba seperti ini. Tantangan terbesarnya bukan menggambar, tapi menempelkan limbah uang dan menyelaraskan warnanya agar tidak terlihat janggal,” ujar Nana sambil tersenyum, matanya tetap fokus pada karya yang mulai terbentuk.

Kesulitan itu dibenarkan oleh peserta lain, ifti. Menurutnya, tekstur uang kertas yang licin dan robek di bagian tepi membuat proses pengeleman harus presisi. Satu kesalahan tempel, maka komposisi lukisan bisa berantakan. Namun justru di situlah letak keseruan lomba kali ini.

Di sisi lain, deretan kursi juri tampak sibuk mengamati setiap sudut kanvas. Salah satu juri, Eko Kaki Langit, menjelaskan bahwa penilaian tidak hanya pada keindahan visual, tetapi juga pada kreativitas mengolah limbah. Semakin banyak potongan uang kertas yang diaplikasikan secara artistik, semakin tinggi pula nilai yang diraih.

“Ini bukan sekadar lomba melukis biasa. Kami mengajak peserta berpikir ekstra. Bagaimana caranya limbah yang sudah tidak bernilai secara ekonomi, justru bisa berbicara banyak melalui seni,” tutur Eko di sela-sela penjurian.

BI Pematangsiantar pun tak tanggung-tanggung menyediakan total hadiah menarik. Juara pertama berhak membawa pulang Rp 3 juta, disusul juara kedua Rp 2 juta, dan juara ketiga Rp 1,5 juta. Sementara peringkat keempat hingga keenam masing-masing mendapat Rp 500 ribu.

Namun di luar soal hadiah, ada misi besar yang ingin disampaikan. Melalui kegiatan ini, BI Pematangsiantar membuktikan bahwa program zero waste bukan sekadar wacana. Limbah uang yang biasanya dimusnahkan, kini bernyawa menjadi karya seni yang estetik dan bernilai jual. Sebuah pesan tersirat: rupiah yang robek sekalipun, jika dikelola dengan kreativitas, masih bisa bersinar.(iw)

banner 970x250 banner 970x250 banner 970x250 banner 970x250 banner 970x250 banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *