SIANTAR — BarisanBaru.com
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar merilis perkembangan inflasi di wilayah kerjanya, periode Desember 2025.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar Ahmadi Rahman mengatakan berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), dua daerah IHK di wilayahnya mencatat inflasi bulanan yang cukup signifikan pada Desember 2025, Jumat (9/1/2026).
Di Kota Pematangsiantar, inflasi tercatat sebesar 1,24 persen (month to month/mtm), dengan inflasi tahunan mencapai 5,37 persen (year on year/yoy). Sementara itu, Kabupaten Labuhanbatu mencatat inflasi yang lebih tinggi, yakni 2,14 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 4,74 persen (yoy).
Menurut Ahmadi, inflasi Desember terutama dipicu oleh faktor eksternal berupa tingginya curah hujan yang berdampak langsung pada penurunan produksi pertanian akibat puso, sekaligus menimbulkan gangguan distribusi di sejumlah wilayah.
“Tekanan tersebut semakin kuat seiring meningkatnya permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur Natal dan Tahun Baru,”jelasnya.
“Dinamika cuaca dan lonjakan permintaan di akhir tahun memberikan tekanan nyata pada harga komoditas pangan strategis,” ungkap Ahmadi dalam keterangannya.
Di Kota Pematangsiantar, komoditas utama penyumbang inflasi bulanan antara lain cabai rawit, bawang merah, dan emas perhiasan. Sementara itu, beberapa komoditas seperti tomat, wortel, dan kentang justru berperan menahan laju inflasi.
Adapun di Kabupaten Labuhanbatu, inflasi didorong terutama oleh kenaikan harga cabai rawit, bawang merah, dan ikan kembung. Di sisi lain, cabai merah, wortel, dan ikan senangin menjadi komoditas yang membantu meredam tekanan inflasi.
Di tengah meningkatnya beban harga yang dirasakan masyarakat, Bank Indonesia tidak tinggal diam.
Dalam upaya menjaga stabilitas harga dan daya beli, KPwBI Pematangsiantar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah dan terus menggencarkan berbagai langkah pengendalian.
Sepanjang Desember 2025, Pasar Murah digelar di 19 titik untuk memastikan keterjangkauan harga kebutuhan pokok. Selain itu, sidak pasar bersama Pemerintah Kabupaten Simalungun dilaksanakan pada 18 Desember 2025 guna memastikan ketersediaan pasokan serta kewajaran harga menjelang Natal dan Tahun Baru 2026.
Penguatan koordinasi lintas daerah juga dilakukan melalui High Level Meeting TPID Kabupaten Asahan pada 16 Desember 2025, serta penerapan Early Warning System (EWS) bersama Pemerintah Kota Pematangsiantar untuk meningkatkan efektivitas pemantauan inflasi dan respons kebijakan secara real-time.
Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dan koordinasi pengendalian inflasi melalui kebijakan yang adaptif, terukur, dan berbasis data. Upaya pengendalian tidak hanya difokuskan pada jangka pendek—seperti pasar murah dan sidak pasar—tetapi juga strategi jangka panjang, antara lain pembentukan petani champion, pemanfaatan teknologi pertanian terkini, serta penguatan kolaborasi antardaerah.
Dengan langkah strategis yang konsisten dan kolaboratif, Bank Indonesia optimistis inflasi pada tahun 2026 dapat dijaga tetap berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan, demi menopang stabilitas harga dan menjaga daya beli masyarakat di wilayah Sumatera Utara bagian timur,”jelas Ahmadi.(iw)








